Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Tafsir Tarbawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Tarbawi. Tampilkan semua postingan
Tazkiyatun Nafs Menurut Al-Qur'an

Tazkiyatun Nafs Menurut Al-Qur'an

TAZKIYATUN NAFS MENURUT AL-QUR`AN

Salah satu tugas besar yang diemban rasulullah saw adalah mentazkiyah (mensucikan) jiwa – jiwa manusia (yuzakkīhim). Berdasarkan dimensi literal bahasa (etimologis), term al-tazkiyah berasal dari kata dasar zakā (fi`il mādhī, kata verbal lampau). Dalam Maqāyīs al-Lughah disebutkan, kata yang tersusun dari lafdz zay, kāf dan huruf mu`tal (alif) menunjukkan pengertian tumbuh (namā) dan tambah (ziyādah).  Dalam bahasa Arab dikatakan shadaqah dengan zakat mal. Menurut sebagian ahli bahasa dikatakan bahwa shadaqah dinamakan zakat mal, karena dengan menunaikannya diharapkan tercapainya kesucian harta, yaitu bertambah dan bertumbuhnya harta tersebut. Sedangkan, ahli bahasa lain mengatakan bahwa shadaqah dinamakan zakat mal, karena pensucian harta. Menurut mereka, bukti kuat tentang makna ini adalah firman Allah Swt:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ...(Qs. At-Taubah [9]: 103)

Dasar pengertian semua yang disebutkan di atas sebenarnya tetap kembali kepada dua arti utama, yaitu tumbuh (namā) dan tambah (ziyādah). 

Al-Rāghib al-Ishfahāni menambahkan bahwa kata al-zakāt yang merupakan derivasi dari kata zakā memiliki arti tumbuhnya sesuatu yang dihasilkan dari keberkahan Allah Swt, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Dalam bahasa Arab dikatakan zakā al-zar`u yazkû, yaitu saat tanaman mencapai pertumbuhan dan keberkahan. Begitu juga kata zakat yang merupakan harta yang dikeluarkan oleh manusia kepada para fuqara yang menjadi hak Allah Swt. Amalan tersebut dinamakan zakat karena mengandung harapan adanya keberkahan, seperti kata tazkiyah al-nafs yang juga berarti tumbuhnya jiwa dengan berbagai kebaikan dan keberkahan. 

Berdasarkan penelusuran Muhammad Fu`ād `Abd al-Bāqī, dalam al-Qur`an term zakā (fi`il mādhī) dan derivasinya (tashrīf lughawi) disebutkan sebanyak lima puluh sembilan ayat.  Dalam al-Qur`an, term al-tazkiyah sendiri dipergunakan untuk menunjukkan sepuluh arti dan makna intrinsik yang saling terkait, yaitu (1) zakat harta yang telah ditetapkan hukum syari`ah (al-zakāt al-syar`iyyah) , (2) lebih dekat kepada kebaikan (al-aqrab ilā al-mashlahat) , (3) halal (al-halāl),  (4) baik dan lembut (al-husn wa al-lathāfah) , (5) pengobatan dan pemeliharaan (al-`ilāj wa al-shiyānah).  (6) semangat mengabdi (al-iqbāl `ala al-khidmah aw al-thā`at) , (7) menjaga diri dari kehinaan (al-ihtirāz `an al-fawāhisy),  (8) tauhid dan persaksian (al-tauhīd wa al-syahādat),  (9) sanjungan dan pujian (al-tsanā wa al-madh),  dan (10) bersih dan suci (al-naqā wa al-thahārah).   

Sedangkan artikulasi al-tazkiyah dari dimensi istilah syar`i (terminologis agama), menurut Ahmad Farīd (seorang ulama kontemporer yang sangat konsern dengan pendidikan jiwa) adalah:

وَيُقْصَدُ بِتَزْكِيَّةِ النُّفُوْسِ تَطْهِيْرُهَا وَتَطْيِيْبُهَا ، حَتَّى تَسْتَجِيْبَ لِرَبِّهَا وَتُفْلِحُ فِى دُنْيَاهَا وَآخِرَتِهَا كَمَا قَالَ تَعَالَى : } قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا {    الشمس : 9-10) .

“Maksud tazkiyah al-nufûs adalah mensucikan dan mengharumkannya, sehingga jiwa selalu siap memperkenankan Tuhannya serta beruntung di dunia dan akhiratnya, sebagaimana Allah Swt berfirman [Sungguh beruntung orang yang mensucikan (mentazkiyah) jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya] (Qs. Al-Syams [91]: 9-10)”. 

`Abd al-`Azīz bin Muhammad al-`Abd al-Lathīf mengartikulasikan al-tazkiyah sebagai:

إِصْلاَحُ النُّفُوْسِ وَتَطْهِيْرُهَا عَنْ طَرِيْقِ الْعِلْمِ النَّافِعَ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَفِعْلِ الْمَأْمُورَاتِ وَتَرْكِ المَحْظُورَاتِ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ مَعْنَى تَزْكِيَّةِ النَّفْسِ بِقَوْلِهِ (أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ عَزوَجّلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ)

“Mereformasi dan mensucikan jiwa melalui cara menggali ilmu yang bermanfaat, beramal shalih, serta mengerjakan berbagai perintah dan menjauhkan berbagai larangan. Nabi saw telah menjelaskan makna tazkiyah al-nas dengan sabda beliau ‘yaitu mengetahui bahwa Allah `Azza wa Jalla bersamanya di manapun dia berada’”.  

Hadis yang dimaksud oleh `Abd al-`Azīz bin Muhammad al-`Abd al-Lathīf sebagai artikulasi tazkiyah al-nafs adalah:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مَعْرُوفٍ الْحِمْصِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرٍ الطَّائِيُّ ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُعَاوِيَةَ الْغَاضِرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُمْ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " ثَلاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ : مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ ، وَلَمْ يُعْطِ الْهَرِمَةَ وَلا الدَّرِنَةَ وَلا الْمَرِيضَةَ ، وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بِشَرِّهَا ، وَزَكَّى نَفْسَهُ ، فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ ؟ ، فَقَالَ : أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ " 

Telah bercerita kepada kami `Alī Ibn al-Hasan Ibn Ma`rûf al-Himshī, telah bercerita kepada kami Abû Taqī `Abd al-Hamīd Ibn Ibrāhīm, telah bercerita kepada kami `Abdullāh Ibn Sālim dari Muhammad Ibn al-Walīd al-Zubaidī, telah bercerita kepada kami Yahya Ibn Jābir al-Thāī bahwa `Abd al-Rahmān Ibn Jubair Ibn Nufair,  telah bercerita kepada kami bahwa ayahnya bercerita kepadanya bahwa `Abdullāh Ibn Mu`āwiyah al-Ghādiri rda yang bercerita kepada mereka bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada tiga hal, barangsiapa yang melakukannya, maka dia pasti merasakan rasanya iman: 1) Barangsiapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla Yang Maha Esa Yang Tidak ada Tuhan yang boleh diibadahi kecuali Dia, 2) memberikan zakat hartanya dengan jiwa yang bersih setiap tahun, tidak memberikan yang renta, yang jelek dan yang sakit, tetapi harta kalian yang paling baik dan sedang, karena Allah swt tidak meminta kalian yang terbaik juga tidak memerintahkan kalian yang jelek, serta 3) mentazkiyah dirinya. Seseorang bertanya: apa tazkiyah nafs itu? Beliau saw menjawab: dia tahu bahwa Allah Azza wa Jalla bersamanya di mana saja dia berada”.  (Hr. Al-Thabrani)   

Bagi Sayyid Muhammad Ibn Jādû, tazkiyah al-nufûs diartikulasikan dengan:

وَعَلَى أَسَاسِ اْلمَعْنَى اللُّغَوِيِّ جَاءَ اْلمَعْنَى اْلاِصْطِلاَحِي لِتَزْكِيَّةِ النُّفُوْسِ، فَتَزْكِيَّةُ النَّفْسِ شَامِلَةٌ لِأَمْرَيْنِ :أ – تَطْهِيْرُهَا مِنَ اْلأَدْرَانِ وَاْلأَوْسَاخِ، قَالَ فِي الظِّلاَلِ : اَلتَّزَكِّي اَلتَّطَهُّرُ مِنْ كُلِّ رِجْسٍ وَدَنَسٍ ب – تَنْمِيَتُهَا بِزِيَادَتِهَا بِاْلأَوْصَافِ اْلحَمِيْدَةِ

“Atas dasar artikulasi etimologisnya, tazkiyah al-nufus memiliki artikulasi terminologis yang meliputi dua prinsip: 1) mensucikan jiwa dari berbagai penyakit dan kotoran. Di dalam Tafsir Fi Dzilāl al-Qur`ān dikatakan: al-tazakki adalah suci dari setiap kekejian dan kotoran. 2) menumbuhkan jiwa dengan menambahkannya sifat-sifat terpuji”.  

Sedangkan menurut Thāha Husen Bāfadhal, tazkiyah al-nafs diartikulasikan dengan:

تَطْهِيْرُهَا عَنِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُوْمَةِ وَتَكْمِيْلُهَا وَتَحَلِّيَّتُهَا بِاْلأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَتَزْيِيْنُهَا بِجَمَالَ التَّعْظِيْمِ لِلَّهِ - عَزَّ وَجَلَّ.

“Mensucikan jiwa dari sifat-sifat tercela serta menyempurnakan dan menghiasinya dengan amal-amal shalih dan mempercantiknya dengan keindahan pengagungan kepada Allah `Azza wa Jalla”. 

Umat Islam adalah Ummatan Wastha

Umat Islam adalah Ummatan Wastha


UMAT ISLAM ADALAH UMMATAN WASTHA (Umat yang Pertengahan)

Allah SWT berfirman;

“Dan demikian, Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. al-Baqarah (2): 143)

Umat Islam adalah ummatan wasathan  umat pertengahan dengan sebagal makna wasath, baik yang berarti bagus dan utama, maupun yang berarti adil dan seimbang atau secara material indrawi.

Umat Islam adalah ummatan wasathan  dalam tashawur pandangan, pemikiran, persepsi dan keyakinan. Umat Islam bukanlah umat yang semata-mata bergelut dan terhanyut dengan ruhiah dan juga bukan umat yang semata-mata berhaluan materi. Tetapi, umat Islam adalah umat yang keseluruhan nalurinya sinergi dan seimbang dengan kebutuhan jasmani.

Umat Islam adalah umat pertengahan dalam peraturan dan keserasian hidup. Mereka tidak hanya bergelut dalam hidupnya dengan perasaan dan hati nurani. Dan, juga tidak terpaku dengan adab dan aturan. Akan tetapi, umat Islam mengangkat nurani manusia dengan aturan dari Allah, serta arahan dan ajaran yang menjamin sistem masyarakat yang universal.

Umat Islam adalah umat pertengahan dalam ikatan dan hubungan. Islam tidak membiarkan manusia melepaskan individualnya dan meleburnya ke dalam diri kelompok atau negara. Sebagaimana Islam juga tidak membiarkan manusia tenggelam dalam egoisme dan individualisme tanpa ada kepedulian sosial. Akan tetapi, Islam memberikan motivasi untuk mengembangkan potensinya secara positif. Sehingga, akan tumbuh suatu keterkaitan yang sinergik antara individu dan masyarakat atau negara. Dan, akan tercipta rasa senang bagi setiap individu dalam melayani masyarakat. Begitu pula sebaliknya.

UMAT ISLAM ADALAH UMAT YANG SENANTIASA MENYERU KEPADA KEBAIKAN.

Allah SWT berfirman;

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. ‘Ali-Imran (3): 104)

Dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas mulia yang manfaatnya meliputi dimensi internal (orang yang berdakwah) dan dimensi eksternal (orang atau masyarakat yang menerima dakwah). Dengan dakwah seorang da’i bisa terlepas dari tanggung jawab pada Tuhannya. Dengan berdakwah pula, masyarakat diharapkan bisa bertaqwa kepada Allah. Jika demikian, maka dakwab adalah kebaikan individu dan kebajikan kolektif.

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketiak suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan kepada Tuhanmu dan supaya mereka bertakwa.’” (QS. al-A’raf [7]: 164)

Jika sebuah masyarakat melupakan, bahkan tidak peduli terhadap peringatan dan pesan-pesan dakwah Islamiyah atau lebih percaya kepada komentar para pakar ata para pengamat yang tidak bersumber dari informasi wahyu, maka masyarakat atau negara akan tertimpa azab Allah dan krisis multidimensi yang berkepanjangan bahkan sifat kebinatangan bisa lebih dominan daripada sifat manusiawi.

Allah SWT berfirman;

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan yang jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. al-A’raf [7]: 165-166)

Kejadian tersebut telah menimpa umat terdahulu. Itu bukan berarti, manusia sekarang tidak akan tertimpa azab sebagaimana pendahulunya. Akan tetapi, ketika umat ini berbuat kejahatan sebagaimana umat terdahulu, sunatullah akan senantiasa berlaku sepanjang masa.

Allah SWT berfirman;

“(Balasan dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan kosong ahli kitab. Baransiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat perlindungan dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah.” (QS. an-Nissa [4]: 123)

Potret Masyarakat Kera

Potret Masyarakat Kera

POTRET MASYARAKAT KERA

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’” (QS. al-A’raf [7]: 166)

Al-Qur’an menerangkan satu kondisi masyarakat yang berubah menjadi kera yang hina sebanyak tiga kali. Semua yang dimaksudkan adalah orang-orang Yahudi.

Masyarakat yang berubah menjadi kera –terlepas dari perbedaan ahli tafsir-, ada yang mengatakan ini perumpamaan dan ada yang mengatakan bahwa mereka benar-benar berubah menjadi kera. Mereka dikutuk Allah karena mereka melakukan tindak kriminalitas agama. Antara lain:

1. Melanggar aturan Allah

Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya telah kami ketahui orang-orang yang melanggar  di antaramu pada hari sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (QS. al-Baqarah [2]: 65)

Ayat ini menjelaskan sebuah pelanggaran yang dilakukan sekelompok orang Yahudi di mana mereka bermaksiat kepada Allah dan merusak janji-Nya yang diambil dari mereka berupa menghormati hari sabtu sebagaimana di terangkan dalam firman Allah:

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air dan di hari-hari yang bukan sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raf [7]: 163)

Ikan dalam kisah di ayat ini merupakan media untuk menguji sejauh mana kesabaran orang-orang Yahudi dan konsisten mereka terhadap janjinya. Ternyata sejarah dan fakta selalu membuktikan bahwa Yahudi dan yang sejenisnya senantiasa tidak sabar dan tidak menepati janji.

2. Menyembah Thagut

Allah SWT berfirman:

“katakanlah, ‘Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. Di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thagut.?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Ma’idah [5]: 60)

Di antara karakter masyarakat yang bermental kera adalah masyarkat yang menyembah atau mengabdi pada thagut. Thagut adalah setiap kekuasaan yang tidak bersandar kepada kedaulatan Allah. Thagut juga berarti setiap hukum yang tidak berdiri atau berpijak pada syariat Allah. Thagut bisa berupa setiap permusuhan untuk menentang kebenaran. Sementara melawan kekuasaan, kedaulan dan ketuhanan Allah merupakan perlawanan dan pembangkangan yang paling sadis dan biadab dari sebuah pengertian thagut yang paling dalam, baik secara bahasa atau secara makna.

Ahli kirab yang di dalamnya ada orang-orang Yahudi tak menyembah orang-orang ‘alim dan rahib mereka. Mereka mengikuti ajarannya dan meninggalkan ajaran Allah, maka Allah menyebut mereka sebagai penyembah-penyembahnya dan menyebut serta memvonisnya sebagai orang-orang yang musyrik. Mereka tidak menyembah penguasa otoriter atau thagut dalam bentuk sujud dan ruku. Tapi dalam pengertian menjadi subordinasi atau mengekor serta tunduk secara buta. Ini adalah bentuk ibadah atau pengabdian yang mengeluarkan pelakunya dari beribadah kepada Allah dan dari agama Allah.

Allah SWT berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuahn selain Allah,  dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyebah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9]: 31)

3. Sombong

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya; ‘Jadilah kami kera yang hina.’” (QS. al-A’raf [7]: 166)

Masyarakat yang sombong terhadap nasihat dan peringatan Allah melalui para da’i adalah masyarakat yang berhak menerima siksaan yang keras sebagai balasan terhadap kezalimannya. Azab yang keras dalam hal ini adalah perubahan dari bentuk manusia menjadi kera. Mengapa mereka menjadi kera? Mereka berubah menjadi kera karena kerelaan dan kesediaannya untuk menyerah dan meninggalkan kemanusiaannya. Saat itulah mereka meninggalkan karakteristiknya yang paling elementer, yaitu sebuah cita-cita yang melahirkan motivasi positif. Tetapi mereka memilih dunia lain, yaitu dunia binarang, maka balasan kezalimannya sepadan dengan pilihan kebinatangan tersebut, yaitu menjadi kera yang hina.

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamarkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS. al-A’raf [7]: 165)

Kebiadaban Yahudi

Kebiadaban Yahudi

KEBIADABAN YAHUDI

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. al-Ma’idah: 82)

Ketika Bani Israel atau orang-orang Yahudi menduduki rangking pertama dalam urutan kisah-kisah umat terdahulu yang disebutkan dalam al-Qur’an, maka itu bukan tanpa makna dan tujuan. Hal ini merupakan pendidikan al-Qur’an terhadap umat Islam agar senantiasa sadar dan waspada akan bahaya Yahudi. Ayat di atas, menyebut orang-orang Yahudi lebih dulu daripada orang-orang musyrik. Ini merupakan isyarat al-Qur’an bahwa permusuhan dan kebiadaban Yahudi terhadap orang-orang beriman lebih keras dan lebih dahsyat daripada permusuhan orang-orang musyrik, walaupun kufur itu satu millah (agama).

Berikut beberapa keterangan al-Qur’an mengenai kebiadaban Yahudi.

1. Membunuh Para Nabi

Allah SWT berfirman:

“…Lalu, ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapatkan kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. al-Baqarah: 61)

2. Mengadakan Konspirasi Internasional untuk Memerangi Umat Islam

Yahudi bersama sekutunya, yaitu orang-orang munafik dan musyrikin senantiasa berada di belakang konspirasi internasional untuk memerangi dan menghancurkan tiga pilar kekuatan umat Islam: aqidah, qiyadah (kepemimpinan) dan jama’ah. Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat dari jalan yang benar. Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang itu musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu). Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.’ Dan (mereka mengatakan pula), ‘Dengarlah.’” Sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan, “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikan kami,” tentulah ini lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. an-Nissa: 44-46)

Realitas sekarang dengan adanya hubunganyang mesra antara Yahudi dengan musyrikin serta munafiqin dalam rangka membuat makar melalui PBB bukanlah cerita baru. Hal ini merupakan kebenaran al-Qur’an sepanjang masa, bahwa Yahudi bukan saja musuh kaum Muslimin Palestina tapi musuh umat Islam seluruh dunia, termasuk Indonesia.

3. Mengkafirkan Kaum Muslimin

Ahlul kitab yang di dalamnya ada orang-orang Yahudi tak pernah bersikeras dan berupaya untuk mewujudkan sesuatu, melebihi ambisi mereka untuk menyesatkan umat Islam dari aqidahnya. Yahudi mengerti bahwa aqidah dan keimananlah yang menjadikan Islam selamat, kuat dan bersatu.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengmbalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali-Imran: 100)

4. Melanggar Perjanjian Allah

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah: 27)

Ayat di atas ini membeirkan pemahaman pada kita bahwa orang-orang Yahudi bukan saja musuh umat Islam. Ia juga musuh kemanusiaan. Tentu setiap manusia normal dan berakal takkan menerima perusakan di muka bumi. Yang lebih bahaya adalah bahwa Yahudi adalah musuh Allah.

Dari karakter Yahudi di atas yang sangat biadab, mereka tidak akan bisa diajak dialog apalagi berdamai. Yahudi adalah makhluk yang tidak mengerti kecuali bahasa kekerasan. Karena itu al-Qur’an  memberikan instruksi kepada umat Islam dengan tegas agar memerangi orang-orang Yahudi, sebelum bertambah kebiadaban mereka.

Allah SWT berfirman:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberikan al-Kitab kepada mereka , sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan hina.” (QS. at-Taubah: 29)

Instruksi Allah ini harus direspon secara positif oleh setiap Muslim. Apalagi sudah ada jaminan dari Rasulullah SAW bahwa masa depan adalah milik umat Islam. Jiak tidak masanya nanti, seorang Muslim akan membunuh Yahudi atas bantuan tentara Allah yang lainnya yaitu batu atau pohon. Syaratnya, setiap Muslim harus berkomitmen dengan ke-Islamannya dan penghambaannya kepada Allah. Karena itulah haditsnya berbunyi, “Wahai Muslim, Wahai Abdullah!” bukan, “Wahai orang Palestina, wahai orang Arab!” misalnya.

Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak akan tiba hari kiamat sehingga orang-orang Islam memerangi orang-orang Yahudi. Lalu kaum Muslimin membunuh mereka, sehingga ketika seorang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon, maka batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, Wahai Abdullah, ini ada orang Yahudi di belakangku. Ke sinilah! Bunuhlah dia!. Kecuali pohon Ghargad. Sesungguhnya ia adalah dari (jenis) pohon Yahudi.” (HR. Muslim)

Rahasia Kemenangan Pasukan Thalut

Rahasia Kemenangan Pasukan Thalut

RAHASIA KEMENANGAN PASUKAN THALUT

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Barangsiapa tidak meminumnya, kecuali hanya seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku,’ kemudia mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka, maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman yang bersamanya itu telah menyeberangi sungai, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Sedangkan orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata ‘Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 249)

Pada ayat ini, Thalut yang menjadi pemimpin Bani Israil memberikan ujian kepada mereka. Setelah diuji, barulah diketahui bahwa Bani Israil adalah bangsa yang lemah yang sering tidak lulus uji. Sebagaimana juga ketika mereka diperintahkan masuk ke Baitul Maqdis oleh Nabi Musa AS, mereka menolak. Karena, di sana ada orang –orang yang mereka takuti. Mereka menolak masuk ke Baitul Maqdis dengan alasan di dalamnya ada Jabbariin (Penguasa yang zalim). Karena biasa terjajah dan terzalimi, Bani Israil menjadi manusia lemah, tak mempunyai inisiatif dan semangat. Hal tersebut menjadi pelajaran berharga. Bahwa, kondisi seperti itu bisa saja terjadi pada kita, umat Islam saat ini. Jika kita perhatikan, tidak sedikit umat yang tak bisa berbuat apa-apa padahal mereka dizalimi. 

Ketika Thalut menguji Bani Israel dengan sebuah ujian berupa sungai, itu dilakukan untuk mengetahui karakter mereka, agar kesalahan yang pernah mereka perbuat tidak terulang. Dan, seorang pemimpin jangan sampai ditinggalkan oleh pasukannya. Dengan ujian tersebut, bisa diketahui mana pasukan yang loyal dan mana yang tidak. Selain itu, ujian tersebut untuk memberikan kesiapan moral dalam jihad Fi Sabilillah.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil adalah, seorang qa’id (pemimpin) tidak akan memberikan tugas kepada jundi (prajurit)-nya sebelum dilakukan ujian terlebih dahulu. Bentuk ujiannya pun jelas. Sehingga para jundi akan senantiasa mempersiapkan dirinya dengan kesiapan menghadapi berbagai ujian.

Dalam amal Islam, dalam perjalanan dakwah, harus jelas diketahui siapa yang loyal terhadap Islam dan siapa yang hanya ikut-ikutan saja. Sekarang ini, banyak pemimpin yang terkena penyakit kaget, karena mereka tidak menjalankan mekanisme ujian dengan baik. Ada pemimpin yang mengira bahwa umatnya banyak, ternyata hanya kosong seperti balon.

Pelajaran lain dari kisah Thalut adalah adanya keseimbangan antara keinginan membentuk umat yang ideal dengan kenyataan umat yang ada. Hal ini telrihat dari diperbolehkannya pasukan untuk meminum air sungai dengan secidukan tangan. Jadi, di antara keistimewaan Islam adalah adanya sinkronisasi antara idealita dan realita. Antara standarisasi karakteristis ideal seorang prajurit dengan realitas rasa dahaga di tengah padang pasir. Dan inilah di antara sebab yang menjadikan pasukan Thalut memenangkan pertempuran atas izin Allah.

Ketika kita melakukan pendidikan kepada keluarga dan masyarakat dalam aktivitas dakwah, harus diperhatikan sinkronisasi antara idealita dan realita. Allah SWT menginginkan agar kita menjadi hamba-Nya yang idela dengan selalu tepat waktu dalam shalat berjama’ah, senantiasa qiyamul lail, puasa sunnah, melaksanakan jihad dan lainnya. Namun di sisi lain Allah juga mengajarai manusia untuk bersikap realistis. Bagaimanapun, kita harus menyadari bahwa manusia bukanlah malaikat. Ketika beberapa sahabat berlomba-lomga untk menjadi yang terbaik dengan cara tidak mau menikah, tidak mau tidur dan ingin berpuasa sepanjang tahun, Rasulullah SAW melarangnya. Ini dilakukan Rasul dalam rangka mendudukan mereka agar berada di antara kondisi ideal dengan realita.

Ujian yang dilakukan Thalut juga punya makna lain. Bahwa, tidak semua pendukung perjuangan dakwah itu setia. Hal itu pernah dialami juga oleh Rasulullah. Di masa Rasul, tidak semua anggota pasukan itu tergolong loyal. Ada di antara mereka orang-orang munafik. Saat  perjalanan perang Uhud, orang-orang munafik membatalkan keikutsertaannya dan kembali ke Madinah. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi pasukan Islam yang lain yang memang keimanannya masih lemah.

Jika di masa Rasul saja terdapat pendukung-pendukung semu, terlebih di masa kita saat ini. Di mana, orang-orang yang memahami al-Qur’an sangat sedikit. Sehingga, wajar jiak ada beberapa pendukung dakwah yang akhirnya berjatuhan di jalan perjuangan dakwah. Walaupun kita berusaha untuk menanggulanginya.

Ketika Thalut mensyaratkan pasukannya dengan meminum air sungai secidukan tangan, ternyata banyak di antara mereka yang minum sepuas-puasnya hingga kekenyangan. Dan yang menuruti perintah Thalut hanya sedikit.

Manusia Khalifah Allah di Muka Bumi

Manusia Khalifah Allah di Muka Bumi

MANUSIA KHALIFAH ALLAH DI MUKA BUMI

Menurut al-Qur’an, manusia menempati posisi istimewa di alam jagat raya ini. Manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi, sebagaimana dinyatakan dalam QS. al-Baqarah: 30

Allah SWT berfirman,

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’”

Kata khalifa diambil dari kata kerja khalafa yang berarti “mengganti atau melanjutkan”. Dalam hal ini yang dimaksud dengan khalifah adalah person yang menggantikan person lainnya.

Kata khalifah secara sederhana  menunjuk kepada sekelompok masyarakat yang menggantikan masyarakat lainnya. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini, misal dalam QS. An-Naml: 62, Allah SWT berfirman:

“Dia menjadikan engkau pewaris-pewaris di muka bumi.” 

Dalam ayat lainnya, QS. al-A’raf: 128-129, Nabi Musa AS memperingatkan kaumnya agar bersbar hati, karena bumi ini kepunyaan Allah dan boleh jadi Dia dapat menghancurkan musuh-musuh-Nya serta menciptakan kembali pewaris di muka bumi. 

Dalam pandangan yang lain juga dinyatakan bahwa kata khalifah tidak secara sederhana menggantikan yang lain, yang secara nyata memang benar-benar khalifah Allah. Allah pertama kali menjadikan khalifah yang berjalan dan beringkah laku mengikuti ajaran Allah.

Fungsi khalifah semakin memainkan peranan penting dalam penafsirannya. Hal ini dikuatkan oleh bukti dari Allah yang telah memberitahukan pengangkatan khalifah agar para malaikat berkmpul atas perintah Allah untuk sujud menundukkan dirinya sebagai syarat hormat kepada khalifah.

Dalam QS. al-Baqarah: 34, Allah SWT berfirman:

“Dan ingatlah taktala Kami berfirman kepada malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka mereka semua sujud kecuali Iblis.”

Perintah sujudnya malaikat kepada Adam ini diulang dalam al-Qur’an hingga enam kali, dalam QS. al-Kahfi, Thaha, al-Isra, al-Hijr dan Shad. Iblis yang menolak sujud telah dikutuk dan dikeluarkan dari surga. Sikap tidak mau sujud ini merupakan pelanggaran kepada perintah Allah, karena pada awalnya pengertian sujud ini diartikan sebagai ibadah kepada Allah. Dengan demikian, khalifah mempunyai peranan penting dan lebih dari makna person kelompok pribadi-pribadi yang menggantikan kelompok lain.

Untuk bukti yang lebih terpercaya dalam mendukung pandangan di atas berasal dari ayat-ayat lain yang dikaitkan dengan persoalan di atas berasal dari ayat-ayat lain yang dikaitkan dengan persoalan kekhalifahan ini. Kata khalifah diletakkan dalam bentuk mufrad (singular) ada di dalam al-Qur’an dua ayat, yaitu al-Baqarah: 30 dan Shad: 26. Bentuk jamaknya adalah “Khal’if” terdapat empat ayat, yakni al-An’am: 165, at-Taubah: 14 & 73, kemudia al-Fathir: 39. Sedangkan bentuk jamak lainnya dengan kata “khulafa’” ada tiga ayat, yakni al-A’raf: 69 dan 74 & an-Naml:62.

Dalam QS. Shad: 26, Allah SWT memerintahkah agar khalifah  berlaku adil dan tidak merugikan. Peringatan ini diberikan kepada Daud AS yang memberi indikasi penggunaan kewenangan.

Ternyata tanggung jawab yang dimainkan oleh khalifah ini tidak sederhana, terutaman ayat-ayat yang mempergunakan bentuk jamaknya. Dalam QS. al-A’raf: 74, khulafa’ dilukiskan sebagai masyarakat atau segolongan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan fisiknya. Mereka membangun tempat tinggal, membangun instansi persinggahan mewah di bukit-bukit serta dataran rendah. QS. al-An’am: 165 menekankan bahwa khalaif diberi status dalam orde ini untuk menguji mereka, sementara ayat lain dari QS. Fathir: 39, membebankan tanggung jawabnya atas perbuatan tidak adil mereka. Makna sama terdapat dalam QS. Yunus 14.

Berdasarkan bukti-bukti Qur’ani di atas dinyatakan, bahwa uamt manusia ditetapkan sebagai khalaif atau khulafa di bawah kondisi-kondisi tertentu. Pemegang jabatan khalifah ini praktis fungsi-fungsinya bukan untuk melepaskan dirinya dari pengawasan Allah.

Fiqih Tarbiyah dari Madrasah Musa dan Khidr

Fiqih Tarbiyah dari Madrasah Musa dan Khidr

FIQIH TARBIYAH DARI MADRASAH MUSA DAN KHIDR

Di antara nilai-nilai moral dan hikmah berharga pada kisah Musa dan Khidr adalah:

Pertama, bagi yang menuntut ilmu di awal belajarnya, sebaiknya tidak bertanya atau berkomentar lebih dulu pada gurunya. Sebab yang demikian itu bisa menghalangi dirinya untuk mendapatkan ilmu sang guru. Apalagi jika tidak jelas baginya cara yang tepat untuk menyampaikan pertanyaan dimana ia tidak boleh menganggu gurunya. Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Bani Israel yang tidak sopan ketika berdialog dengan Nabinya. Begitu juga Hawariyyun dengan Isa yang menyebabkan teguran dan murkan Allah. Allah SWT berfirman:

“Mereka menjawab, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami.’” (QS. al-Baqarah: 68)

“Ingatlah, ketika pengikut-pengikut Isa berkata, ‘Wahai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?’” (QS. al-Ma’idah: 112)

Ungkapan “Tuhanmu” ini merupakan ungkapan yang tidak sopan dan tidak etis, dimana seolah-olah Allah itu Tuhannya Musan dan Isa saja, bukan Tuhan mereka, mengingat mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah dan risalah Nabi yang mereka berdialog dengannya.

Hal ini berbeda dengan ungkapan dan doa Nabi Isa AS yang merespon permohonan Hawariyyin dengan ungkapan yang mendidik.

“Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang akan datang sesudah kami dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami dan Engkaulah Pemberi Rezki yang Paling Utama.’” (QS. al-Ma’idah: 114)

Kedua, jika seorang guru merasa muridnya bukan pemula dan latar belakang ilmu yang dimiliki membuatnya banyak bertanya dan berkomentar, maka bagi guru sebaiknya memberikan syarat-syarat terhadap muridnya agar menciptakan kondisi yang kondusif dalam menyampaikan risalah ilmunya. Saat murid tidak konsisten dengan syarat yang telah ditentukan, maka guru mensyaratkan untuk meninggalkan pelajaran. Allah SWT berfirman:

“Dia berkata, ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah menanyakan kepadaku tentang suatu apapun, sampai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu.’” (QS. al-Kahfi: 70)

Ketiga, bagi seorang guru diperbolehkan untuk memperllihatkan segi kekurangan pengetahuan murid dan memberitahukan hal tersebut kepadanya denga objektif. Hal itu dilakukan dalam rangka mendidik bukan merendahkan, agar seorang murid tidak terperdaya dan “ghurur” dengan ilmunya. Allah SWT berfirman:

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’” (QS. al-Kahfi: 68)

Keempat, setelah bertakan dan senantiasa mengaitkan seluruh perkaranya dengan kehendak Allah, maka seorang murid hendaknya memperlihatkan dirinya kepada sang guru akan keseriusannya dan kesabarannya dalam menuntut ilmu. Hal tersebut dilakukan bukan untuk riya’ ata memuji dirinya, akan tetapi semata-mata mensyukuri nikmat Allah. Allah SWT berfirman:

“Musa berkata, ‘Insyaa Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” (QS. al-Kahfi: 69)

Pendidikan dalam Al-Qur'an

Pendidikan dalam Al-Qur'an

Tanggung Jawab Pendidikan

Di dalam al-Qur`an, anak disebut sebagai zinah (perhiasan) dunia; indah mempesona walau sebagai ujian hidup bagi orang tua.

Alloh swt berfirman:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Qs. Al-Kahfi [18]: 46)

Anak adalah amanah yang akan dimintakan pertanggung jawabannya di sisi Alloh swt kelak di akherat. Termasuk bagian dari amanah yang besar ini adalah “mentarbiyyah” anak, memperbaiki kualitas keturunan dan berupaya menjaga diri anak-anak dari api neraka. Alloh swt berfirman: 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. At-Tahrim [66]: 6)

Ad-Dohhak rhm mengatakan tentang ayat ini:

“Wajib bagi seorang muslim untuk mengajarkan keluarganya (istri dan anak-anaknya) dan para pembantunya, baik laki-laki maupun perempuan tentang apa saja yang difardukan dan dilarang oleh Alloh swt”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Prinsip-prinsip Pendidikan Islam

Karena itu pula, di dalam al-Qur`an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang pendidikan anak. Di antara ayat-ayat yang merangkum semua segi-segi pendidikan anak di dalam al-Qur`an adalah kisah tentang nasehat Luqman kepada putranya. Alloh swt berfirman:

Sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Alloh. Barangsiapa yang bersyukur (kepada Alloh), Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Sesungguhnya Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu bersyirik (mempersekutukan) Alloh, Sesungguhnya memper sekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang berlipat-lipat, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang telah menempuh jalan-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan membalasnya. Sesungguhnya Alloh Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya semua itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh). Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Qs. Luqman [31]: 12-19)

Unsur-unsur penting pendidikan yang dapat dipetik dari ayat-ayat yang agung dan mulia ini adalah:

1. Seorang guru adalah seorang ahli hikmah. Ahli hikmah bukanlah orang yang memiliki ilmu kedigdayaan atau kemampuan luar biasa yang serba gaib. Ahli hikmah adalah ulama yang sangat faham tentang al-Qur`an dan as-Sunnah serta bijak bestari dalam beramal dan mendidik manusia.

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Qotadah rhm mengatakan tentang hikmah yaitu “fiqh (pemahaman) tentang Islam, karena Luqman bukan seorang Nabi dan juga tidak diberi wahyu. Sedangkan Ibnu katsir sendiri mengatakan bahwa Luqman diberi pemahaman, ilmu dan kemampuan mengolah katanya”.

2. Salah satu metode utama dalam pendidikan adalah mau`idzoh, yaitu nasehat. Nasehat adalah memberikan pandangan kebaikan dengan cara yang menyentuh jiwa seseorang. As-Sa`di rhm mengatakan bahwa mau`idzoh adalah “kata-kata perintah dan larangan yang disertai targib (anjuran) dan tarhib (ancaman)”. (Baca kita Taisirul Karimir Rohman Fi Tafsiril Kalamil Mannan)

3. Materi pendidikan yang harus dibentuk kepada anak-anak kita adalah:

a. Ajaran tauhid dan iman serta meninggalkan kekufuran
b. Berbakti kepada kedua orang tua
c. Mengikuti jalan hidup orang-orang yang sholih
d. Mengingatkan tentang hari akhirat dan perhitungan
e. Mengingatkan tentang bahaya maksiat dan anjuran berbuat kebaikan
f. Mendirikan sholat
g. Amar ma`ruf Nahi Munkar
h. Larangan berlaku sombong dan menghina orang
i. Ajaran rendah hati dan bermuka manis
j. Ajaran bersikap tengah-tengah dalam segala hal.
k. Larangan bersuara keras di luar kebutuhan dan tanpa faedah

Kesimpulannya menurut Ibnu `Asyur adalah bahwa materi pendidikan yang disampaikan Luqman mengandung dasar-dasar ajaran syari`at Islam: aqidah, amal perilaku, adab pergaulan dan adab jiwa diri sendiri. (baca Tafsir at-Tahrir wat Tanwir)

Pendidikan dalam al-Qur`an bertujuan membentuk anak-anak kita menjadi manusia-manusia yang tergolong sabiqun bil khoirot (manusia unggul), yaitu:

1. Memiliki rasa takut kepada Allah Swt.
2. Memiliki kekuatan iman 
3. Memiliki tauhid yang bersih 
4. Mengenal urgensi waktu dan umur
5. Tekad yang jujur, cita-cita yang tinggi dan kemauan yang kuat.
6. Semangat kompetitif dalam setiap kebaikan
7. Hati yang bersih 
8. Peniti jalan pendahulu mereka yang shalih. Intisari dari Qs. Al-Mu`minun [23]:57-61. Baca: Māzin Ibn `Abd al-Karīm al-Freh, al-Rāid Durūs Fi al-Tarbiyyah wa al-Da`wah, hlm. 332-336).

Tarbiyyah Robbaniyyah

Tarbiyyah Robbaniyyah

TARBIYYAH ROBBANIYYAH
(ARTI PENDIDIKAN ISLAM)
DALAM TAFSIR AL-QUR`AN

Kata rabbānī  terulang sebanyak 3 kali dalam al-Qur`ān, dua kali dalam bentuk shīghat (ungkapan kalimat) jama` mudzakkar sālim marfû` (الربانيون), yaitu Qs. al-Maidah [5]: 44 & 63 serta satu dalam bentuk shīghat jama` mudzakkar sālim manshûb (الربانيين), yaitu Qs. Ali `Imran [3]: 79.

Ayat-ayat tersebut adalah:

Pertama, Allah Swt berfirman:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:"Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata):"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali `Imrān [3]:79)

Kedua, Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Māidah [5]:44)

Ketiga, Allah swt berfirman:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (QS. Al-Māidah [5]:63)Secara etimologi, kata rabbāniyah dalam bahasa Arab merupakan bentukan dari kata al-Rab yang ditambahkan huruf ya nisbah di akhirnya. Para ahli bahasa Arab telah memberikan arti pada kata al-Rab dengan beberapa arti. Arti-arti itu mencakup arti al-mālik (pemilik), al-sayyid (tuan), al-mudabbir (penata), al-murabbī (pendidik), al-qayyim (pendiri), al-mun`īm (pemberi nikmat).  Menurut Sibawaih orang-orang Arab menambahkan alif dan nūn dalam kata al-rabbānī ketika mereka ingin mengkhususkan ilmu Tuhan (al-Rab), bukan ilmu selain-Nya atau bisa berasal dari kata al-rab yang berarti al-tarbiyah (pendidikan). 

Kata rabbānī artinya al-habr wa rab al-`ilm (tinta dan pemilik ilmu). Rabbānī juga bisa berarti al-ladzī ya`bud al-Rab (orang yang mengabdi kepada Tuhan) atau bisa juga berarti al-mutaallih al-`ārif billāh (orang yang berke-Tuhan-an lagi mengenal Allah).  Sejalan dengan pendapat di atas, al-Rāghib al-Ashfahāni menambah penjelasan yang lebih tegas, menurutnya:

اَلرَّبُّ فِى الأَصْلِ اَلتَّرْبِيَّةُ , يُقَالُ رَبَّهُ وَرَبَّاهُ وَرَبَّبَهُ فَالرَّبُّ مَصْدَرٌ مُسْتَعَارٌ لِلْفَاعِلِ, وَالرَّبَّانِي قِيْلَ هُوَ مَنْسُوْبٌ إِلَى الرَّبِّ أي اَللَّهُ تَعَالَى الَّذِى هُوَ الْمَصْدَرُ وَهُوَ الَّذِى يَرُبُّ الْعِلْمَ

“al-Rab menurut etimologinya adalah al-tarbiyyah (pendidikan). Dalam bahasa Arab dikatakan rabbahu, rabbāhu, dan rabbabahu. Kata al-rab adalah mashdar yang diambil untuk menunjukkan pelaku. Sedangkan kata al-rabbānī dihubungkan kepada al-Rab yaitu Allah Ta`ala yang merupakan mashdar (sumbernya) dan Dialah yang memberikan ilmu”.  
Dalam uraian yang hampir sama, Ibn Qayyim menjelaskan:

وَمَعْنَى الرَّبَّانِي فِى اللُّغَةِ: اَلرَّفِيْعُ الدَّرَجَةِ فِى الْعِلْمِ الْعَالِى المَنْزِلَةِ فِيْهِ وَ لاَ زِيَادَةَ عَلَى فَضْلِهِ لِفَاضِلٍ وَ لاَ مَنْزِلَةَ فَوْقَ مَنْزِلَتِهِ لِمُجْتَهِدٍ 

“Arti al-rabbānī secara etimologi adalah Zat yang memiliki derajat keilmuan yang mulia dan kedudukan yang tinggi. Tak ada lagi Dzat yang lebih utama dalam kemuliaannya dan tidak ada lagi mujtahid yang berada di atas kedudukannya”.  

Dari beberapa definisi di atas, dapat diketahui bahwa dalam bahasa, rabbāniyah merupakan penisbatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu, sebagaimana orang menisbatkan dirinya kepada negeri atau marganya, seperti Mishrī `berkebangsaan Mesir`, Syāmī `berkebangsaan Syam dan sebagainya, ada juga sekelompok orang yang disebut dengan rabbāniyyūn, yakni mereka yang telah merealisasikan syarat-syarat untuk menisbatkan dirinya kepada Allah Swt. 

Kedua akar kata dari rabbānī, yaitu al-Rab atau al-tarbiyyah sebenarnya memiliki hubungan antara sumber dan sifat karakter dasarnya. Karena, di antara sifat karakter dasar dari al-Rab (Tuhan) yaitu tarbiyah (mendidik). Tarbiyah Allah Swt (yang disebut dengan spesifikasi karakter al-Rab) memiliki dua bentuk:

1. Tarbiyah umum: yaitu menciptakan semua makhluk, memberinya rizki serta memberikan petunjuk mereka kepada semua hal yang mengandung kemaslahatan untuk dapat menjalankan kehidupan di dunia.
2. Tarbiyah khusus: yaitu mendidik para wali-Nya, dengan pendidikan iman, memberi mereka taufik dan menyempurnakannya serta mencegah berbagai unsur yang dapat mencegah sampainya hidayah kepada mereka. 

Dalam etimologi bahasa Arab, kata tarbiyah memiliki lima makna, yaitu:

Pertama, arti “al-ziyādah wa al-namā” yang berarti pertambahan dan pertumbuhan. Dalam bahasa Arab dikatakan rabā al-syaiu rubuwwan (sesuatu itu tumbuh atau bertambah).

Kedua, arti “al-nusyū wa al-tara`ra`u” yang berarti perkembangan dan pembesaran. Dalam bahasa Arab dikatakan rabautu fi hijrī (saya berkembang dan besar di rumah saya).

Ketiga, arti “al-hifdz wa al-ishlāh” yang berarti pemeliharaan dan perbaikan. Dalam bahasa Arab dikatakan raba al-māl (harta itu baik dan terpelihara).

Keempat, arti “al-tazkiyah wa al-irtifā`” yang berarti kesucian dan ketinggian. Dalam bahasa Arab dikatakan rabat al-ardhu rabaan (tanah itu suci dan tinggi).

Kelima, arti bertanggung jawab mengurus, mendukung, menjaga dan mengarahkan sesuatu untuk semua kemaslahatannya. Dalam bahasa Arab dikatakan rabbaitu Fulānan (saya mengurus si fulan). 

Pengertian yang memberikan rumusan tentang karakter atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang rabbānī.

a. Berdasarkan data yang dikumpulkan al-Thabari, sebagai bapak ahli tafsir, setidaknya ada 3 pengertian rabbānī yang berkembang di kalangan para ulama salaf, yaitu:

1) arti “al-hukamā al-ulamā” yang berarti kaum bijak bestari lagi ahli ilmu. Riwayat ini berasal dari para pakar tafsir antara lain Abu Rizīn, al-Hasan, Mujāhid, Qatādah, al-Suddi, Ibn `Abbās, Yahyā Ibn `Aqīl dan al-Dhahhāk.

2) arti “al-hukamā al-atqiyā” yang berarti kaum bijak bestari lagi bertaqwa. Riwayat ini berasal dari salah seorang ulama tafsir di kalangan ulama salaf yaitu Sa`īd Ibn Juber.

3) arti “wulāt al-Nās wa qādatuhum” yang berarti para pengurus dan pemimpin manusia. Riwayat ini berasal dari salah seorang ulama tafsir di kalangan ulama salaf yaitu Ibn Zaid. 
Bagi al-Thabarī sendiri, semua arti yang dikemukakan oleh semua ahli tafsir di kalangan salaf tidak saling bertentangan, bahkan semuanya masuk dalam pengertian rabbānī. Dalam hal ini, dia mengungkapkan: 

وَ"الرَّبَّانيِ" هُوَ الْمَنْسُوْبُ إِلَى مَنْ كَانَ بِالصِّفَةِ اَّلتِي وَصَفْتُ وَكَانَ اْلعَالِمُ بِاْلفِقْهِ وَاْلحِكْمَةِ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ، يَرُبُّ أُمُوْرَ النَّاسِ، بِتَعْلِيْمِهِ إِيَّاهُمْ الْخَيْرَ، وَدُعَائِهِمْ إِلَى مَا فِيْهِ مَصْلَحَتُهُمْ وكان كذلك الحكيمُ التقيُّ لله، والوالي الذي يلي أمور الناس على المنهاج الذي وَليه المقسطون من المصْلحين أمورَ الخلق، بالقيام فيهم بما فيه صلاحُ عاجلهم وآجلهم، وعائدةُ النفع عليهم في دينهم، ودنياهم كانوا جميعًا يستحقون أن يكونوا ممن دَخل في قوله عز وجل:"ولكن كونوا ربانيين" 

“al-Rabbānī ditujukan untuk orang yang memiliki sifat yang telah saya sebutkan sebelumnya. Dialah ahli ilmu fiqh dan hikmah yang tergolong kaum reformis, dialah yang menata urusan manusia dengan memberikan mereka pengajaran yang baik dan ajakan tentang semua hal yang berkaitan dengan kemaslahatan mereka. Begitu juga orang bijak bestari yang bertaqwa kepada Allah, pemimpin yang mengurus segala urusan manusia berdasarkan manhaj yang dijadikan pijakan bagi para reformis yang adil dalam menata kehidupan manusia dengan berupaya keras menegakkan semua sendi yang mengandung kemaslahatan mereka, baik di dunia maupun di akhirat serta bermanfaat bagi agama dan dunia mereka. Semua mereka ini berhak dimasukkan dalam kelompok firman Allah `Azza wa Jalla sebagai [kûnû rabbāniyyīn].”. 

b. Menurut Māzin Ibn `Abd al-Karīm al-Frêh, rabbānī adalah orang-orang yang memiliki karakter-karakter khusus yang meliputi:

1) Murabbin hakīm (pendidik yang bijaksana)

Rabbāniyūn kata tunggalnya adalah rabbānī yang dinisbahkan kepada al-Rab. Rabbānī adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang sederhana sebelum ilmu-ilmu yang pelik. Seakan-akan dia mensuritauladani Allah swt dalam memudahkan berbagai urusan. Pengertian ini diriwayatkan dari Ibn `Abbās rda yang tercantum dalam Shahīh al-Bukhāri secara mu`allaq. 

2) Dā`iyah mushlih (pembimbing yang reformis)

Rabbāniyūn adalah para pemilik ilmu, kata tunggalnya adalah rabbān yang diambil dari perkataan orang Arab: rabba yarubbuhu fahuwa rabbān: dengan arti dia yang mengatur dan memperbaikinya. Atas dasar tersebut, maka artinya: merekalah yang menata dan memperbaiki urusan manusia. 

3) Mengamalkan ilmu 

Orang yang berilmu tentang agama al-Rab (Tuhan-nya) adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Karena, jika dia tidak mengamalkan ilmunya, berarti dia bukanlah orang yang berilmu.

4) Taqiyyun halīm (bertaqwa lagi penyabar)

`Abdullāh Ibn Mas`ûd rda berkata:

“(Akan tetapi jadilah kalian rabbānī) yaitu para ulama yang bijak bestari”.

Ibn Jubair rda berkata:

“Kaum bijak bestari lagi bertaqwa”.

5) faqīh bi wāqi` ummatih (memahami realita umat).

Rabbānī adalah orang yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan pandangan politik yang bijak. Diambil dari perkataan orang Arab: rab amr al-nās yarubbuhu, yaitu ketika dia memperbaiki dan menegakkan urusan umat, maka dialah rabbān dan rabbānī untuk menunjukkan seringnya. Abu `Ubaidah berkata: Aku mendengar seorang yang berilmu berkata: rabbānī adalah orang yang berilmu tentang halal, haram, perintah dan larangan serta mengetahui berbagai khabar tentang umatnya, baik yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi.   

c. Nāshir Ibn Sulaimān al-`Umr menyimpulkan 3 pilar yang harus dimiliki seorang rabbānī, yaitu:

1) Memiliki ilmu syar`i.

Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Māidah [5]:44)

Di dalam ayat ini, Allah Swt mensifati rabbāniyūn dan ahbār sebagai orang-orang yang ustuhfidzū min Kitabillāh yang dikatakan oleh Ibn Katsīr  sebagai penjaga Kitabullah agar selalu ditampilkan dan diamalkan. Bahkan menurut Ibn Jarīr al-Thabarī  bahwa rabbāniyūn adalah para ulama yang diperintahkan untuk menjaga Kitabullah yang ada di masa mereka (yaitu Taurat).

Dari sini tampak jelas bahwa di antara sifat mereka adalah memiliki ilmu yang kokoh dan luas, atau melakukan pembelajaran ilmu dan memperbaiki umat sebagai konsekwensi logis dari keilmuannya.
Untuk itu, para ulama salaf menyebut rabbāniyūn untuk para ulama yang memiliki kedalaman ilmu serta syarat-syarat lain. Pada saat Ibn `Abbās rda wafat, Muhammad Ibn `Alī Ibn Abi Thālib yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Hanafiyah mengatakan bahwa pada hari itu seorang rabbānī umat ini sudah wafat.  Sedangkan Murrah memberikan gelar `Alqamah sebagai salah seorang rabbānī. 

2) Mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Saat menyebut rabbāniyūn di dalam ayatnya, Allah Swt menyebutkan syarat ini sebagai bagian dari pengertian rabbānī. Allah Swt berfirman:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata):"Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya. (QS. Ali `Imrān [3]:79)

Salah satu pengertian rabbānī yang ditafsirkan oleh sebagian ulama salaf adalah “atqiyā”, yaitu orang-orang yang bertaqwa, seperti yang ditafsirkan oleh Muqātil Ibn Sulaimān dan Sa`īd Ibn Zubair. Kata taqwa tidak mungkin disematkan kecuali mengandung unsur pelaksanaan suatu amal dan peninggalan suatu larangan. 

3) Menyeru umat manusia serta mendidik mereka dengan pendidikan iman.

Saat memberikan ulasan tafsir Qs. Al-Maidah [5]:44, `Abd al-Rahmān Ibn Nāshir al-Sa`dī mengatakan:

أَيْ: وَكَذَلِكَ يَحْكُمُ بِالتَّوْرَاةِ لِلَّذِيْنَ هَادُوا أَئِمَّةُ الدِّيْنِ مِنَ الرَّبَّانِيِّيْنَ، أَيْ: اَلْعُلَمَاءِ اْلعَامِلِيْنَ اْلُمعَلِّمِيْنَ الَّذِيْنَ يَرُبُّوْنَ النَّاسَ بِأَحْسَنِ تَرْبِيَّةٍ، وَيَسْلُكُوْنَ مَعَهُمْ مَسْلَكَ اْلأَنْبِيَاءِ اْلمُشْفِقِيْنَ. وَاْلأَحْبَارِ أَيْ: اَلْعُلَمَاءِ اْلكِبَارِ الَّذِيْنَ يُقْتَدَى بِأَقْوَالِهِمْ، وَتُرْمَقُ آثَارُهُمْ، وَلَهُمْ لِسَانُ الصِّدْقِ بَيْنَ أُمَمِهِمْ. وَذَلِكَ الْحُكْمُ الصَّادِرُ مِنْهُمُ اْلمُوَاِفقُ لِلْحَقِّ {بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ} أَيْ: بِسَبَبٍ أَنَّ اللهَ اسْتَحْفَظَهُمْ عَلَى كِتَابِهِ، وَجَعَلَهُمْ أُمَنَاءَ عَلَيْهِ، وَهُوَ أَمَانَةٌ عِنْدَهُمْ، أَوْجَبَ عَلَيْهِمْ حِفْظَهُ مِنَ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ وَاْلكِتْمَانِ، وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لاَ يَعْلُمُهُ. وَهُمْ شُهَدَاءُ عَلَيْهِ، بِحَيْثُ أَنَّهُمُ اْلمَرْجُوْعُ إِلَيْهِمْ فِيْهِ، وَفِيْمَا اشْتَبَهَ عَلَى النَّاسِ مِنْهُ، فَاللهُ تَعَالَى قَدْ حَمَّلَ أَهْلَ اْلعِلْمِ، مَا لَمْ يَحْمِلْهُ الْجُهَّالُ، فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ اْلقِيَامُ بِأَعْبَاءِ مَا حُمِّلُوْا.

“Demikianlah yang menetapkan hukum Taurat kepada orang-orang Yahudi adalah imam-imam (tokoh) agama di kalangan rabbaniyun, yaitu ulama yang berkarya dan pendidik yang mendidik manusia dengan pendidikan yang terbaik serta menempuh kehidupan para Nabi yang amat penyayang. Demikian juga para ahbār yaitu para ulama besar yang perkataan mereka menjadi panutan dan jejak kehidupan mereka menjadi panduan serta memiliki pesan-pesan kebenaran untuk umat mereka. Semua itu disebabkan oleh karena Allah Swt memerintahkan mereka untuk menjaga atau memelihara kitab-Nya serta menjadikan mereka pemegang amanah kandungan-nya. Allah Swt pemberi amanah mengharuskan mereka menjaganya dari penambahan atau pengurangan dan penyembunyian serta wajib mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya.

Mereka (para rabbānī dan ahbār) adalah saksi-saksi Kitabullah, di mana merekalah sumber rujukan kaum mereka tentang kandungannya dan apa saja yang sulit dipahami orang. Allah Swt telah memberikan beban tugas kepada seorang ahli ilmu yang tidak diserahkan kepada orang jahil. Untuk itulah, mereka wajib mewujudkan amanah yang mereka emban. 

Sudah menjadi kaedah yang logis jika dikatakan bahwa menjaga syariat Allah Swt tak mungkin diwujudkan hanya menjaganya di jiwa dan mengamalkannya saja, tetapi juga harus disampaikan kepada umat serta dibina dan dididik sesuai tuntunannya.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia