Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Presentasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presentasi. Tampilkan semua postingan
Tips Keterampilan Menyajikan Pelajaran

Tips Keterampilan Menyajikan Pelajaran

Keterampilan Menyajikan Pelajaran
Micro Teaching


Keterampilan Menyajikan Pelajaran

A. Tahapan Menyajikan Pelajaran

  • Tahap Prainstruksional, adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat memulai proses belajar-mengajar (apersepsi), berupa kegiatan:
    • Guru menanyakan kehadiran siswa & mencatat siapa yang tidak hadir,
    • Guru bertanya kepada siswa sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya (bukan berarti guru sudah lupa),
    • Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya,
    • Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai dari pelajaran yang sudah diberikan,
    • Mengulang secara singkat bahan pelajaran yang telah dibahas sebelumnya.
  • Tahap Instruksional, adalah tahapan pelajaran atau tahap inti, berupa kegiatan:Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai setelah siswa mempelajari pokok materi yang akan dibahas,
    • Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu,
    • Membahas pokok materi yang telah ditulis tadi,
    • Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh konkrit,
    • Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan pokok materi,
    • Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.
  • Tahap Evaluasi & Tindak Lanjut, tahapan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua (tahap instruksional), berupa kegiatan:
    • Mengajukan pertanyaan mengenai semua pokok materi yang telah dibahas pada tahapan kedua (tahap instruksional),
    • Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa kurang dari 70%, maka guru harus mengulang kembali materi yang belum dikuasai siswa,
    • Untuk memperkaya pengetahuan siswa berkaitan dengan materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas/pekerjaan rumah,
    • Akhiri pelajaran dengan menjelaskan atau memberitahu pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
  • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
  • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
  • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
  • melibatkan peserta didik secara aktif dalam se­tiap kegiatan pembelajaran; dan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan per­cobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:
  • membiasakan peserta didik membaca dan me­nulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
  • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memuncul­kan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
  • memberi kesempatan untuk berpikir, menga­nalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut;
  • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif can kolaboratif;
  • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
  • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
  • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok
  • memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan
  • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa per­caya diri peserta didik.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
  • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan,  isyarat, maupunhadiah terhadap keberhasilan peserta didik
  • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber
  • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan
  • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar
  • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar
  • membantu menyelesaikan masalah
  • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi
  • memberi informasi untuk bereksplorasi Iebih jauh
  • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif. 

B. Komunikasi Interaksi Proses Belajar Mengajar

Penggunaan komunikasi interaksi belajar mengajar bukan hanya komunikasi satu arah dari guru kepada peserta didik saja, melainkan mengarah kepada komunikasi interaksi optimal antara guru dengan peserta didik dan sesama peserta didik.

Jenis-jenis komunikasi interaksi proses mengajar:
  • Komunikasi satu arah
  • Ada balikan (feed back) bagi guru, tapi tidak ada interaksi antar siswa
  • Ada balikan bagi guru,siswa saling belajar satu sama lain
  • Interaksi optimal antara guru dengan siswa dan antar sesama siswa

Keterampilan Melaksanakan Pretes

Keterampilan Melaksanakan Pretes

Keterampilan Melaksanakan Pretes
Micro Teaching


Download Presentasi: SlideShare

KETERAMPILAN MELAKSANAKAN PRETES

1. Pengertian Pretes

Adalah tes yang diberikan sebelum siswa mengikuti pelajaran atau sebelum mengikuti program pengajaran (Zakiah Daradjat,1995).

2. Fungsi Pretes

Untuk menilai kemampuan siswa mengenai materi pelajaran sebelum pengajaran diberikan (Mudhoffir,1986).

3. Jenis-Jenis Tes yang Digunakan pada Pretes

  • Tes tulis
  • Tes lisan
  • Tes perbuatan

Untuk menilai sejumlah tujuan yang telah dirumuskan, mungkin hanya digunakan satu jenis tes atau dua jenis tes atau ketiga-tiganya. Hal ini tergantung kepada hakikat tujuan yang hendak dicapai.

4. Beberapa Saran dalam Pembuatan Tes

  • Untuk tujuan utama hendaknya dibuatkan beberapa pertanyaan untuk menilai hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
  • Kalau tujuan benar-benar penting, cobalah menanyakan dengan berbagai cara agar siswa benar-benar dapat menjawab dengan caranya sendiri.
  • Yakinkan bahwa setiap pertanyaan bertujuan menanyakan tujuan tertentu. Atau dengan kata lain pertanyaan tersebut dialamatkan ke tujuan yang mana.
  • Pergunakanlah pedoman cara-cara menanyakan (membuat tes) pada tujuan belajar kognitif, psikomotorik, afektif seperti diterangkan di atas.
  • Pertanyaan harus jelas dan mudah dimengerti oleh siswa sehingga siswa tidak salah tafsir.
  • Untuk mengetahui berapa persen tingkat keberhasilan belajar yang telah dicapai oleh siswa, pergunakanlah pretes dan postes. Tapi ingat soal-soal yang ada pada pretes harus sama dengan soal-soal pada postes.

Evaluasi Sebagai Sub Sistem PBM

Evaluasi Sebagai Sub Sistem PBM

Kedudukan Evaluasi Pembelajaran dalam PBM/KBM

Proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar merupakan sebuah sistem yg terdiri dari beberapa sub sistem/komponen/unsur dimana satu sub sistem/komponen/unsur yg satu dgn yg lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi dan merupakan satu kesatuan yg tidak bisa dipisahkan.Sub sistem/komponen/unsur tersebut yaitu:

1. Tujuan pembelajaran (RPP: SK, KD, indikator)
2. Sumber belajar (guru, pendidik, fasilitator (non formal), media, dll)
3. Peserta didik (penentu berlangsung tidaknya PBM/KBM)
4. Prencanaan yg merupakan bagian dari kurikulum
5. Strategi belajar mengajar (metode)
6. Media pembelajaran
7. Evaluasi Pembelajaran



Download Presentasi: SlideShare

Keterampilan Membuka Pelajaran

Keterampilan Membuka Pelajaran

Keterampilan Membuka Pelajaran
Micro Teaching



Download Presentasi : SlideShare

KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

Keterampilan membuka pelajaran adalah suatu upaya atau proses pembelajaran dalam menarik minat dan bakat murid ketika belajar

1. Dalam keterampilan membuka pelajaran, guru harus memberikan pengantar/pengarahan terhadap materi yang akan diajarkan pada peserta didik agar siap mental dan tertarik untuk mengikutinya.

2. Keterampilan membuka pelajaran merupakan kunci dari seluruh proses pembelajaran yang harus dilaluinya. Sebab jika seorang guru pada awal pelajaran tidak mampu menarik perhatian peserta didik, maka proses tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan baik. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal pelajaran, tetapi juga pada setiap awal kegitan inti pelajaran.

Ini dapat dilakukan dengan cara:

  • mengemukakan tujuan yang akan dicapai,
  • menarik perhatian peserta didik,
  • memberi acuan,
  • membuat kaitan antara materi pelajaran yang akan dikuasai oleh peserta didik dengan bahan yang akan diajarkan.

Inti persoalan membuka pelajaran adalah:

  • terkait dengan usaha guru dalam menarik perhatian siswa,
  • memotivasi,
  • memberi acuan tentang tujuan,
  • pokok persoalan yang akan dibahas,
  • rencana kerja serta pembagian waktu,
  • mengaitkan pelajaran yang telah dipelajari dengan topik baru,
  • menanggapi situasi kelas.

Menurut Wardani (1984) dalam Zainal Asril (2010) mengemukakan bahwa inti keterampilan membuka adalah menyiapkan mental murid agar mereka siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan, dan membangkitkan minat dan perhatian siswa  apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar
mengajar.

TUJUAN KETERAMPILAN MEMBUKA PELAJARAN

1. Membantu mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajari. Pada kegiatan ini, guru perlu menyampaikan apa tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

2. Menimbulkan minat dan perhatian peserta didik pada apa yang akan dipelajari. Adalah sangat penting membangkitkan minat peserta didik sejak awal agar tertarik belajar bersama. Jangan sampai guru mengajar peserta didik yang pasif atau tidak mau tahu dengan pelajaran yang guru berikan hanya karena guru tidak dapat menarik perhatian dan membangkitkan minat.

3. Membantu peserta didik untuk mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan. Melalui kegiatan membuka pelajaran, guru dapat menyampaikan apa saja yang relevan dengan topik bahasan dan apa saja yang tidak, tentu hal ini tidak lepas dari indikator pembelajaran.

4. Membantu peserta didik untuk mengetahui hubungan pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dipelajari atau yang belum dikenal.

Tujuan, Cita-Cita, Sasaran dan Perencanaan

Tujuan, Cita-Cita, Sasaran dan Perencanaan

PRESENTASI TUJUAN, CITA-CITA, SASARAN DAN PERENCANAAN



Download Presentasi : SlideShare

***

TUJUAN

Tujuan merupakan sesuatu yang akan dicapai (dihasilkan) pada kurun waktu tertentu.

Tujuan merupakan implementasi atau penjabaran dari misi

Tujuan merupakan langkah pertama yang harus ditentukan dalam membuat rencana/ program kerja. 

CITA-CITA

Cita-cita merupakan harapan seseorang akan masa depan terkait dirinya atau kondisi masyarakat secara umum.

Sasaran adalah pihak yang dituju atau menjadi objek dari suatu pekerjaan.

PERENCANAAN

Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. 

Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen.

Tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan—tak akan dapat berjalan

Tugas:
Tentukanlah tujuan, sasaran dan perencanaan anda dalam mengatasi masalah yang terjadi di tengah masyarakat!

# MASALAH 1 

Tujuan:

1. Mengentaskan tawuran di kalangan pelajar.
2. Menanamkan akhlak terpuji dalam interaksi antar sesama pelajar.
3.  

Sasaran:

Pelajar tingkat sekolah menengah atas di wilayah Kota/ Kabupaten Bogor

Rencana Kerja:

1. Mengadakan penyuluhan tentang dampak buruk tawuran. 
2. Membuat sarana/ media bimbingan Islam bagi kalangan pelajar.

# MASALAH 2

Tujuan: 

1. Meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat Indonesia terkait dasar-dasar keislaman.
2.

Sasaran:

1. Masyarakat khususnya kalangan pegawai di instansi pemerintah dan swasta di wilayah Kota/ Kabupaten….

Rencana Kerja:

1.  


Dakwah Antara Peluang dan Tantangan

Dakwah Antara Peluang dan Tantangan

PRESENTASI DAKWAH ANTARA PELUANG DAN TANTANGAN



Download Presentasi : SlideShare

***

Dakwah adalah aktivitas yang mulia bahkan termulia.

Aktivitas yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik, bahkan yang terbaik. Jika tidak, aktivitas yang baik itu akan dikalahkan oleh aktivitas yang buruk dan jahat.

Berbagai konten dan seruan yang negatif terus disebarluaskan secara masif kepada masyarakat melalui berbagai macam media, baik media cetak, media elektronik, maupun media online.

Tingkat interaksi masyarakat kita dengan media sudah begitu tinggi;

1. hampir di setiap rumah ada pesawat televisi yang ditonton berjam-jam setiap hari.
2. internet sudah masuk desa.
3. berbagai perangkat dan layanan (blackberry, hp android, gadget) dengan harga murah bisa dipakai dengan mudah untuk mengakses internet.

PELUANG/KEUNGGULAN & TANTANGAN

1. Koran/Surat Kabar
2. Majalah
3. Televisi
4. Radio
5. Internet
6. BB, HP, android, gadget

Potensi Diri dan Aktualisasi Peran Dakwah

Potensi Diri dan Aktualisasi Peran Dakwah

POTENSI DIRI DAN AKTUALISASI PERAN DAKWAH



Download Presentasi: SlideShare

***

Sadarkah Anda atas beragam potensi yang Anda miliki..?

Basic Skill (Potensi [sangat] mendasar) 

1. Berbicara (komunikasi)

2. Membaca
a. Membaca adalah pintu gerbang ilmu..
b. Tanpa membaca, Anda tak kan bisa melakukan perubahan…

3. Berfikir/menganalisa
a. Berfikirlah dengan keras dan cerdas…

4. Menulis
a. Menulislah sejak sekarang…
b. Tak ada lagi alasan untuk tidak bisa menulis... Sarananya telah demikian sempurna…
c. Bandingkan dengan kondisi masa lalu…

Potensi Anda harus diaplikasikan dalam mengentaskan problematika umat…


Urgensi Dakwah Basic Skill

Urgensi Dakwah Basic Skill

PRESENTASI URGENSI DAKWAH BASIC SKILL




Download Presentasi : SlideShare

***

Perhatikan problem yang ada di masyarakat…

Lalu apa solusi terbaik yang harus anda lakukan..?

Apakah anda hanya diam dan berpangku tangan..?

Umat sedang menunggu jawaban anda..

Pengantar Studi Fiqih Muamalah

Pengantar Studi Fiqih Muamalah

PRESENTASI PENGANTAR STUDI FIQIH MUAMALAH



Download Presentasi : SlideShare

***

PENGANTAR FIQIH MUAMALAH

Manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Keberadaan aturan dalam mengatur tata cara manusia memenuhi kebutuhan merupakan satu keharusan.
Islam adalah satu-satunya agama yang komprehensif membahas segala yang dibutuhkan manusia, termasuk masalah muamalah.

Segala bentuk muamalah merugikan manusia diharamkan dalam Islam dan segala bentuk muamalah memberikan manfaat dihalalkan dalam Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para Rosul! Makanlah oleh kalian dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebaikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Mu’minun: 51)

Allah Ta'ala dalam ayat ini memerintahkan para Rasul ‘alaihimusalam agar mengkonsumi makanan halal, dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. (Umdah al-Tafsir)

PERHATIAN SALAF TERHADAP HUKUM MUAMALAH

Umar ibn al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata:

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”

Ali ibn Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

BAHAYA KEBODOHAN TERHADAP HUKUM MUAMALAH

رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ.

al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. al-Bukhari)

روى الطبراني في معجم الكبير و البيهقى فى شعب الإيمان عَنْ كَعْبِ بن عُجْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُ لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ وَلا دَمٌ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا

Al-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Ka’ab ibn Ujrah, beliau berkata: Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari harta haram. Setiap daging dan darang yang tumbuh dari harta haram maka Neraka lebih layak atas keduanya.” (HR. al-Thabrani dan al-Baihaqi)

DEFINISI FIQIH MUAMALAH

Hukum-hukum yang berpautan dengan hubungan manusia sesamanya dalam masalah-masalah maliah, dan dalam masalah-masalah huquq (hak) yang dinamakan dengan muamalah.

Pengertian fiqih muamalah dalam pengertian khusus (terbatas) adalah akad-akad atau transaksi yang membolehkan manusia saling memiliki harta benda dan saling tukar menukar manfaat berdasarkan syariat Islam.

Fiqih muamalah juga dapat didefinisikan sebagai berikut:

العلم الذى يبحث فى الأحكام الشرعية المتعلقة بالعقود والتصرفات المالية

Ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan akad-akad dan transaksi kepemilikan harta.

LANDASAN HUKUM FIQIH MUAMALAH DALAM AL-QUR’AN

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah kalian agar kalian diberi rahmat.” (QS. Al-An’am: 155)

LANDASAN HUKUM FIQIH MUAMALAH DALAM AS-SUNNAH

رَوَى اْلحَاكِمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia bekata: Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat setelah adanya dua perkata tersebut yaitu kitabullah dan sunnahku.” (HR. al-Hakim)

وفي الصَّحِيحِ عَنِ النبي صلى الله عليه وَسَلَّمَ أنه قَالَ: « مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ الله وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى الله »

LANDASAN HUKUM FIQIH MUAMALAH DALAM IJMA’

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nisa ayat 115:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan barangsiapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa ter-hadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An Nisa’ [4]: 115)

RUANG LINGKUP PEMBAHASAN FIQIH MUAMALAH

Secara terperinci ruang lingkup pembahasan fiqih muamalah terbagi menjadi dua:

1. Ruang lingkup muamalah dilihat dari aspek moralitas, akhlak atau etika (adabiyah), misalnya ada unsur ridha, tidak ada pemaksaaan, intimidasi, penipuan, dan serba ketidak jelasan.

2. Ruang lingkup muamalah dilihat dari sisi materi muamalahnya yaitu menjelaskan aturan-aturan Islam terkait dengan tata cara dalam memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan sebuah materi seperti jual beli, kerjasama, perkongsian, gadai, utang piutang, sewa menyewa, pinjam meminjam, upah, wakalah, kafalah dan lain-lain.

Pengantar Studi Akhlak

Pengantar Studi Akhlak

PRESENTASI PENGANTAR STUDI AKHLAK



Download Presentasi : SlideShare

***

Definisi Akhlak

Secara Bahasa (Etimologi)

Akhlak (الأَخْلَاقُ) jama’ (plural) dari kata al-khuluq (الخُلُقُ), 

Akhlak adalah nama untuk suatu kebiasaan atau pembawaan seseorang dan tabiat yang ia terlahir dengan membawanya. (Majmū’ah min al-Mukhtashshīn, Mausū’ah Nadrat al-Na’īm, hlm. 59.) 

Tiga derivasi (asal kata)

1. al-khalq, الخَلْقُ
2. al-khulq, الخُلْقُ
3. al-khuluq الخُلُقُ 

(اَلْهَيْئَاتُ وَ الصُّوَرُ الْمُدْرَكَةُ بِالْبَصَرِ)

Al-khalq   (اَلْخَلْقُ) dikhususkan untuk menggambarkan kondisi dan sosok yang dapat dilihat mata. 

(اَلْقُوَى وَالسَّجَايَا اْلمُدْرَكَةُ بِالْبَصِيْرَةِ)

Al-khulq  (اَلْخُلْقُ) dan al-khuluq (اَلْخُلُقُ) dikhususkan untuk sifat dan karakter yang hanya dapat dilihat dengan intuisi. (Ar-Raghib al-Asfahani dalam Ahmad Mu’ādz Haqqī, al-Arba’ūna Hadītsan fi al-Akhlāq, hlm. 7.)

Ibn Manzur berkata,

“al-khuluq adalah agama (al-dīn), tabiat (al-tab’) dan karakter (al-sijiyyah), dimana hakikatnya adalah bentuk atau kondisi yang bātin (tak terlihat) dari seseorang, yaitu jiwanya, sifat-sifatnya, dan kepribadiannya. Adapun al-khalq adalah bentuk atau kondisi –baik sifat maupun kepribadian- yang zāhir (terlihat).” (al-Jurjānī, al-Ta’rifāt, dalam Mausū’ah Nadrat al-Na’īm, Jilid I, hlm. 60.) 

Secara Istilah

Al-Jurjāni menjelaskan :

(اَلْخُلْقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا اْلأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ)

“Akhlak adalah nama bagi suatu bentuk didalam jiwa yang bersifat rāsikh (mendalam dan kokoh) yang muncul dari padanya perbuatan-perbuatan dengan begitu mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.” (al-Jurjānī, al-Ta’rifāt, dalam Mausū’ah Nadrat al-Na’īm, Jilid I, hlm. 62.)

(فَإِنْ كَانَ الصَّادِرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ اْلحَسَنَةُ كَانَتِ الْهَيْئَةُ خُلُقًا حَسَنًا، وَإِنْ كَانَ الصَّادِرُ مِنْهَا اْلأَفْعَالُ اْلقَبِيْحَةُ سُمِّيَتِ الْهَيْئَةُ الَّتِيْ هِيَ مَصْدَرُ ذَلِكَ خُلُقاً سَيِّئاً.)

“Jika hal yang muncul dari dalam jiwa tersebut perbuatan baik atau terpuji maka disebut akhlak yang baik. Begitu pula jika yang muncul adalah perilaku buruk atau tercela maka sumber perilaku itu dinamakan akhlak yang buruk.”

(وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّهُ هَيْئَةٌ رَاسِخَةٌ لِأَنَّ مَنْ يَصْدُرُ مِنْهُ بَذْلُ اْلمَالِ عَلَى النُّدُوْرِ بِحَالَةٍ عَارِضَةٍ لَا يُقَالُ خُلُقُهُ السَّخَّاءُ مَالَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ فِيْ نَفْسِهِ.)

“Akhlak dinamakan bersifat rāsikh (kokoh) dikarenakan (sebagai contoh) orang yang menyumbangkan hartanya secara jarang dikarenakan sebab tertentu saja perilakunya tidak dikatakan sebagai dermawan selama perbuatannya itu tidak tetap pada dirinya”.

al-Jāhiz mendefinisikan akhlak yaitu :

1. Akhlak adalah kondisi jiwa yang dengannya manusia melakukan perbuatannya tanpa pertimbangan (rawiyyah) maupun pilihan (ikhtiyār).

2. Akhlak pada sebagian manusia terkadang merupakan insting (gharīzah) dan tabiat (tab’an), tetapi pada sebagian yang lain hanya dapat dimiliki dengan suatu pembiasaan (riyādah) dan kesungguhan (ijtihād). 

Contoh:

Sifat dermawan (sakhā’), yang terkadang terdapat pada diri banyak orang tanpa adanya pembiasaan maupun upaya keras (ta’ammul). Demikian pula sifat berani (syajā’ah), santun (hilm), menjaga kesucian diri (‘iffah), adil (‘adl), dan akhlak terpuji lainnya” (Majmū’ah min al-Mukhtashshīn, Mausū’ah Nadrat al-Na’īm, hlm. 61.)

Kesimpulan…

1. Akhlak adalah sifat yang terkandung di dalam jiwa, baik bawaan (fitrah) atau didapat dengan usaha (muktasab), yang menghasilkan efek berupa perilaku terpuji atau tercela. (‘Abd al-Rahmān Hasan Habankah al-Maidānī, al-Akhlāq al-Islāmiyyah wa Ususuhā, Damaskus: Dār al-Qalam, 1999, hlm. 10)

2. Tidak setiap sifat yang ada didalam jiwa dapat disebut akhlak. Ada yang berupa insting atau faktor pendorong saja yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan akhlak. Yang membedakan keduanya adalah bisa atau tidaknya ia disifati dengan baik atau buruk.

Contoh:

Makan ketika lapar adalah dorongan dari rasa didalam jiwa yaitu mempertahankan hidup, dan ini tidak disifati dengan baik atau buruk. Namun seseorang yang makan secara berlebihan yang muncul dari sifat tamak atau rakus maka ini disebut akhlak, karena tamak atau rakus itu buruk dan tercela. (‘Abd Rahmān al-Maidāni, al-Akhlāq al-Islamiyyah wa Ususuhā, hlm. 11.)

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia