Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Penulisan Kata Ulang dan Kata Gabungan

Penulisan Kata Ulang dan Kata Gabungan

Penulisan Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Misalnya :

Anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra.

Penulisan Kata Gabungan Kata

1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk kata istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya :
Duta besar, kambing hitam, kereta api cepat lear biasa, mata pelajaran, meja tulis, modl linear, oarang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

Misalnya :

Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda.

3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai

Misalnya :

Acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabahasa, kilometer, manakala, manasuka, manggkubumi, matahari, olahraga, padahal.paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, syahbandar, titimangsa, wasalam.


Penulisan Kata Dasar dan Turunan

Penulisan Kata Dasar dan Turunan


Penulisan Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya :

Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.

Penulisan Kata Turunan

1.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya :

Bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

2.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.

Misalnya :

Bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.

3.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata ditulis serangkai.

Misalnya :

Menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancurleburan.

4.      Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya :

Adipati, aerodinamika, antarkota, audiogram, awahana, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektronika, infrastruktur, instrospeksi, kolonialism, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panteisme, paripurna, poligami, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern..

Catatan :

(1)   Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu ditulis tanda hubung (-)

Misalnya :

Non-Indonesia, pan-Afrikanisme.

(2)   Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan dasar, gabungan itu ditulis terpisah.

Misalnya :

Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Pemakaian Huruf Miring

Pemakaian Huruf Miring


Pemakaian Huruf Miring

1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya :
Majalah Bahasa dan Kesusastraan, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara Karya.

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menugaskan atau menghususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya :
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya :
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negara ini.
Weltanschauung antara lain diterjemaahkan menjadi “pandangan dunia”.

Catatan :
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi garis di bawahnya.


Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar

Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar


Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya :
Dia mengetuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya :
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah Nak!”
“Kemarin engkau terlambat,” katanya.
“Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya :
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Qur’an, Weda, Islam, Keristen.
Tuhan akan menunjukan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya :
Mahaputra, Yamin, Sultan Hasanudin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya :
Dia baru saja diangkat sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya :
Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya :
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

6. Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya :
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudokf Supratman, Halim Perdana Kusuma, Apere.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya :
Mesin diesel, 10 volt, 5 ampere.

7. huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bahasa dan nama bahasa.

Misalnya :
Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan nama bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya :
Mengindonesiakan kata asing.
Keinggris-inggrisan.

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya :
Tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jum’at, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang dipakai sebagai nama.

Misalnya :
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Minsalnya :
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danai Toba, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, Jalan Dipenogoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya :
Berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberangi selat, pergi ke arah tenggara.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya :
Garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon.

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta dokumen resmi.

Misalnya :
Menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antar pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang dapat pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya :
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Kepegawaian.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama bentuk, majalah, surat kabar dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya :
Saya telah membaca buku dari Ave Maria je Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

13. Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya :
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara

14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak dan adik dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya :
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.
Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
Surat Saudara sudah saya terima.
“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.
Besok Paman ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya :
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

15. Huruf kapital sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya :
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.

Sejarah Singkat Ejaan Bahasa Indonesia

Sejarah Singkat Ejaan Bahasa Indonesia


Sejak Bahasa Indonesia dijadikan bahasa nasional, bahasa pengantar dan bahasa resmi, bahasa Indonesia sudah mengalami beberapa kali perubahan ejaan. Ejaan tersebut adalah Rjaan yang Ophuyseen, ejaan Republik atau Ejaan Suwandi, dan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

Pada tahun 1901 lahirlah ejaan Van Ophuysen, ejaan berlandaskan aturan ejaan Melayu dengan huruf Latin yang dirancang oleh Cgaries Adrian Van Ovhuysen dengan bantuan Engku Manawi gelar St,. Makmur dan Muhammad Tabib Soetan Ibrahim. Waktu itu usaha ke arah penyempurnaan ejaan mulai dirintis. Hal itu terbukti dalam Kongres Bahasa Indonesia 1 tahun 1938 di Solo. Kongres menyarankan agar ejaan lebih diinternasionalkan. Selanjutnya pada tahun 1947, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Ejaan Republik sebagai ejaan resmi. Penetapan berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 19 Maret 1947. Misalmya: Boekoe menjadi Buku.

Kongres bahasa Indonesia ke-2 diadakan pada tahun 1945 di Medan. Pada kongres tersebut, selain dibicarakan asal-usul bahasa Indonesia juga dibicarakan penyusunan peraturan ejaan yang praktis bagi bahasa Indonesia. Pada tahun 1956 dibentuklah panitia Priyono-Katopo. Panitia itu berhasil merumuskan patokan-patokan baru. Rumusan tersebut melahirkan Ejaan Melindo (Melayu Indonesia), ejaan yang berdasarkan konsep perjanjian persahabatan antara Persekutuan Tanah Melayu dan Indonesia dengan usaha mempersamakan kedua bahasa tersebut, akan tetapi perkembangan ejaan ini terhenti karena situasi politik. Selanjutnya, pada tahun 1967 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mensahkan panitia Ejaan Bahasa Indonesia dengan tugas menyusun konsep penyempurnan ejaan.

Pada tahun 1967, Ketua Gabungan V Komando Operasi Tertinggi (KOTI) mengeluarkan surat Tanggal 21 Februari 1967. Surat tersebut berisi rancangan peraturan ejaan terdahulu dipakai oleh tim KOTI sebagai bahan pembicaraan dengan Malaysia tentang Ejaaan Malaysia. Pembicaraan tersebut diadakan di Jakarta tahun 1966 dan Kualalumpur 1967. rancangan tersebut baru dikeluarkan bersama oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mashuri) dan Menteri Pelajaran Malaysia (Husen On). Rancangan tersebut dipakai sebagai bahan pengembangan bahasa nasional kedua negara itu. Selanjutnya, rancangan itu diseminarkan pada tahun 1972 di Puncak dan diperkenalkan kepada masyarakat/setiap Departemen serta ditetapkan tanggal 20 Mei 1972. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1972 diresmikan menjadi EYD.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia