Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Kapita Selekta Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapita Selekta Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Pendidikan Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi

Pendidikan Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS
(Pendidikan Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi)

Disusun Oleh:
AHMAD ROBIHAN, S.Pd.I
DKK

A.      PENDAHULUAN

Istilah globalisasi diambil dari kata “global”. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. Marshall McLuhan menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi ini global village (desa buana). Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya sistem informasi satelit.

Arus globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari. Globalisasi memunculkan gaya hidup kosmopolitan yang ditandai oleh berbagai kemudahan hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya-gaya hidup baru yang disenangi.

Globalisasi menjadi kekuatan yang terus meningkat, dan dapat menimbulkan aksi dan reaksi dalam kehidupan. Globalisasi melahirkan dunia yang terbuka untuk saling berhubungan, terutama dengan ditopang teknologi informasi yang sedemikian canggih. Topangan teknologi ini pada gilirannya dapat mengubah segi-segi kehidupan, baik kehidupan material maupun kehidupan spiritual.

Pada era globalisasi saat ini, kesadaran global tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan tampak semakin jelas. Maklum, globalisasi telah menampilkan  perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat, teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih, serta pengaruh budaya global dalam kehidupan yang sangat dominan. Kondisi demikian ini meniscayakan adanya kualitas SDM yang memadai bagi siapapun supaya ia mampu bekerjasama dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain yang pada akhirnya setiap individu atau suatu bangsa dapat eksis dalam percaturan global ini.

Dalam konteks ini, bidang-bidang kehidupan umat manusia yang khususnya ada dalam ruanglingkup pesatren yang kurang siap dalam menghadapi era globalisasi perlu berbenah diri. Ditilik dari sejarah pendidikan Islam Indonesia, pesantren sebagai sistem pendidikan Islam tradisional memainkan peranan penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Jika globalisasi adalah suatu keniscayaan maka mau tidak mau harus dikontekskan dengan piranti-piranti globalisasi tersebut. Artinya, pendidikan pesantren sudah semestinya memiliki kepentingan untuk membentuk SDM yang siap bergulat dan bertarung untuk menghadapi arus deras globalisasi.

Apabila kita menilik pendidikan pesantren yang telah berjalan di Indonesia, sungguh banyak sekali sistemnya yang harus di rombak, mulai dari cara pandang yang dipakai (paradigma), model pembelajaran, penekanan tujuan pendidikan pesantren, dan masih banyak yang lain. Dalam pusaran arus globalisasi, pada kenyataannya pendidikan pesantren belum mampu menciptakan anak didik (santri) yang kritis dan memiliki kemampuan dalam menghadapi arus globalisasi yang menindas dan mencengkram. Dalam keadaan inilah pendidikan pesantren semestinya tidak bebas nilai(value free), sebaliknya pendidikan pesantren harus berkepentingan untuk menciptakan santri yang kritis dan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya.

Baca Selengkapnya ==>



Download Jurnal : SlideShare

Peran Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi

Peran Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM ERA GLOBALISASI
Oleh: Dr. H. Endang Komara, M.Si.

Awal abad ke-21 ini ditandai oleh perubahan yang mencengangkan. Kenyataan tersebut telah menghadapkan masalah agama kepada suatu kesadaran kolektif, bahwa penyesuaian struktural dan kultural pemahaman agama adalah suatu keharusan. Hal ini hendaknya tidak dilihat sebagai suatu upaya untuk menyeret agama, untuk kemudian diletakkan dalam posisi sub-ordinate dalam hubungannya dengan perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang sedemikian cepat itu. 

Alih-alih, hal itu hendaknya dipahami sebagai usaha untuk menengok kembali keberagaman masyarakat beragama. Dengan demikian revitalisasi kehidupan keberagamaan tidak kehilangan konteks dan makna empiriknya. Keharusan tersebut dapat juga diartikan sebagai jawaban masyarakat beragama terhadap perubahan yang terjadi secara cepat.

Sebagai agen perubahan sosial, pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan perannya secara dinamis dan proaktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti bagi perbaikan umat Islam, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis. Pendidikan Islam bukan sekadar proses penanaman nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam tersebut mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi.

Globalisasi berpandangan bahwa dunia didominasi oleh perekonomian dan munculnya hegemoni pasar dunia kapitalis dan ideologi neoliberal yang menopangnya. Untuk mengimbangi derasnya arus globalisasi perlu dikembangkan dan ditanamkan karakter nasionalisme guna menghadapi dampak negatif dari arus globalisasi.

Kata Kunci:

Pendidikan Islam, kekuatan pembebas, dampak negatif globalisasi

Baca Selengkapnya ===>



Download Jurnal : SlideShare

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia